Sekedar Tulisan
Taujih malam itu , begitu mengguyur ruhani yang kering kerontang, larut dalam sejuk mata penuh bahagia dengan genangan air mata. Sekali lagi silaturahmi di ‘peraduan lingkaran’ itu membangkitkan semangat yang sesekali surut dihantam kerdilnya jiwa, subhanallah…
Amanah, ujian dan cobaan seringkali menyurutkan langkah-langkah kaki kita untuk terus menapaki keistiqomahan di jalan dakwah..yang menggelayuti benak kita adalah “Aku bisa tidak ya untuk terus?”.
Itu manusiawi, namun jika kita perhatikan perintahNya kepada Yahya dalam surat Maryam ayat 12 : “Hudzil kitaab bil quwwah” (ambillah kitab ini dengan quwwah), Allah memerintahkan kita untuk ikhlas dan tak hanya menyuruh untuk taat melaksanakannya melainkan juga harus mengambilnya dengan quwwah yang bermakna jiddiyah, kesunguh-sungguhan.
Ya..kekuatan dan kesungguhan,, tanpa rahmat dan kekuatan dari Allah, bisa saja dengan mudah kita terjerumus ke dalam gemerlap dunia yang menipu tiap-tiap kita. Ya dunia begitu menipu dengan keindahan yang dahsyat, coba saja jika kita berada di kawasan Puncak di malam hari, subhanallah, dari atas bukit melihat gemerlap lampu dengan suasana alam yang dengan hitungan matematis tak akan sanggup menghitung detail penciptaan Sang Pencipta,, segenap kesyukuran kita panjatkan, namun begitu banyak juga tiap-tiap diri yang begitu terlena dengan keindahan itu hingga ia lupa akan hakikat kehidupan itu sendiri.
Tetapi janji Allah, akan memberikan ganjaran yang sebesar-besarnya dan derajat yang setinggi-tingginya bagi mereka yang sabar dan lulus dalam ujian kehidupan di jalan dakwah. Jika ujian, cobaan yang diberikan Allah hanya yang mudah-mudah saja tentu mereka tidak akan memperoleh ganjaran yang hebat. Disitulah letak hikmahnya yakni bahwa seseorang da’I harus sungguh-sungguh dan sabar dalam meniti jalan da’wah ini. Perjuangan ini tidak bisa dijalani dengan ketidaksungguhan, azam yang lemah dan pengorbanan yang sedikit.
Hanya diri kita sendiri yang tahu bagaimana diri kita,, carilah celah pembuat semangat jiwa kita. Persaudaraan adalah semangat. Persaudaraan dan kecintaan merupakan kelanjutan dari keimanan seseorang. Jika kita mencintai saudara seiman, ukuran kecintaan ialah
berapa banyak nasehat yang ikhlas diberikan padanya. Karena
menyayangi orang lain berarti bertanggung-jawab untuk menunjukkan
kesalahan mereka. Memang, sahabat yang diperlukan dalam hidup ini
adalah sahabat setia yang mau memberikan nasehat bila melihat
saudaranya khilaf dan salah. Tak bisa dibayangkan jika tidak ada persaudaraan, tak ada teman, hingga akhirnya sendiri terjerumus lebih dalam dan dalam lagi.
Dan amanah dakwah itu sendiri adalah semangat. Disaat semangat kendur, namun amanahlah obatnya, menjadi semangat tiada henti.
Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memberikan Rahmat dan Cinta bagi kita semua, hingga kita tetap selalu semangat berada di jalanNya,, kesedihan yang ada diganti dengan kemashlahatan bagi setiap orang. Membaca surat Al- Maidah ada kisah tentang Qabil dan Habil namun beberapa ayat selanjutnya dikatakan bahwa “….Siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, Hari Kemudian dan beramal shaleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (Q.S Al-Maidah : 69), Subhanallah… maka jika kita larut dalam kesedihan bukankah patut dipertanyakan dengan keimanan kita, terutama mengimani takdir. Insya Allah kebaikanlah yang Allah SWT kehendaki bagi hamba-hambaNya . Kondisi yang mungkin kita ubah, obatnya adalah kerja keras, sedangkan kondisi yang tidak mungkin kita ubah, solusinya adalah sabar dan melupakannya.
Silaturahmi semalam menjadikan titian semangatku kembali, berusaha merealisasi cita-cita, harapan dan angan-angan dengan jiddiyah (kesungguhan) dan kekuatan tekad.
Mendengar saudaraku mendapat rizki dengan seorang jundi di rahimnya, walau dengan harapan skripsinya selesai tahun ini..subhanallah
Saudaraku yang lain dengan mitsaqon golizho yang kan dilaksanakan dalam hitungan hari lagi, berharap bahwa ia berusaha menjadi istri yang baik.
Saudara yang lain dengan pengangkatan menjadi PNS, dengan harapan dia mendapat sang Qurrota a’yun di dalam rumah tangganya..
Dan ku yakin hanyalah kesungguhan dan kekuatan dari Allah, mereka mampu mencapainya kini, yang sebelumnya banyak cobaan yang menghadang, itulah hadiah dari Allah. Subhanallah..tidak henti-hentinya penuh kesyukuran bahwa Allah SWT telah mempertemukan kami hingga sampai berada di ‘peraduan lingkaran’ ini.
Semoga kita tetap istiqomah di jalan Allah yang akan mendapatkan buah yang pasti berupa keteguhan hati. Mudah-mudahan cita-cita dan harapan kita, mampu menjadikan semangat di setiap langkah kita.
Dan harapanku kini,,,,,,,,,,
Semoga Rabbul Izzati mengabulkan,,
**Sweet Thursday 070607 – inspirasi dari seseorang yang telah memberiku ‘pelajaran’**